Monday, July 14, 2008

Ideologi Kiri vs Ideologi Kanan

Suatu Konsep Ideologi sebenarnya selalu mengandung dua konsep dasar tentang “perubahan” (change) dan “nilai-nilai” (values). Disebut demikian karena ideology secara sederhana dapat didefinisikan sebagai nilai-nilai yang mengubah masyarakat, baik mengubah kea rah yang lebih progresif atau membawanya kepada kemunduran (retrogesif).

Istilah kiri dan kanan berasal dari tradisi politik Perancis, kelompok yang secara umum mendukung kebijakan-kebijakan penguasa/raja adalah kelompok kanan. Sedang yang menawarkan perubahan dalam system itu disebut kelompok kiri.

Terkait dengan konsep dasar diatas, sifat ideology dapat dibuat dalam kontinuitas kategori redikal, liberal, moderat, konservatif dan reaksioner. Kontinuitas kategori sifat ideology dapat dijelaskan dalam gambar berikut :

Jika spectrum dilihat, misalnya dari kiri ke kanan, kita bisa membuat identifikasi sifat dan sekaligus mengetahuii hubungan khusus diantara sifat-sifat atau jenis ideology itu, misalnya mengapa radikal lebih dekat ke kiri, sementara reaksioner ke kanan.

Dalam termilogi politik, radikal identik dengan kelompok ekstrimis kiri, tetapi bukan ekstrimis kanan. Sementara dalam penggunaan yang lebih popular, istilah radikal seringkali dirujukkan kepada kelompok ekstrimis baik kiri maupun kanan.

Monday, June 16, 2008

Cak-cak kreng tho la'ot


Cak-cak kreng tho la'ot1
- maka azamkan hatimu-
( 1
st version.1st chapter)
Oleh : Bagaskara Manjer Kawuryan
Editor : Tengku Muda
Sekarwangi-Sukabumi. 16 Jumadil Uula 1429 H


Agam Bakoey pun mengangkat seluruh air laut dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk memungut tak terhitung ikan dari berbagai macam jenis. Memandang matanya ke tepian pantai yang dipenuhi belasan perahu berukuran sedang milik nelayan Lancang Barat, Gampongnya2. Tak ada seorang pun disana.

Perahu-perahu tak tertambat, dibiarkan begitu saja. Seolah tak ingin terjilat air laut perahu-perahu itu di tempatkan menjauhi bibir pantai. Dengan cekatan Agam Bakoey3 memasukan seperlunya ikan-ikan ke dalam jaring hasil rajutannya.

Untuk kali kedua Agam Bakoey melayangkan pandangan ke bibir pantai Lancang Barat4. Dilihatnya Tengku Dayah yang tergesa menuju Meunasah5 Dusun Ujong Krueng6. Matanya berbinar mengkilatkan cahaya gembira. “Tengku…Tengku…!!!”, Agam Bakoey berteriak sejadinya. Tengku Dayah7 di bibir pantai sana merasa terpanggil segera mencari si pemilik suara, namun usahanya sia-sia, beliau tak melihat siapapun disekitarnya.

Merasa teriakannya kurang keras Agam Bakoey kembali memanggil “Tengku…Tengku…cie neu eu u laott,,,lon hinoe!!!” (Teungku…Teungku…Lihatlah ke laut,,,saya disini!!!). Petunjuk dari panggilan kedua membuat Tengku Dayah segera mengarahkan perhatiannya ke laut. “Masya Allah….Bakoey….pu na die lee…peu yang ka peugeut ?” (Masya Allah….Bakoey….ada apa lagi ini…apa yang kamu lakukan?), tanya spontan Tengku Dayah. “Tengku, neuhoe bandum ureung beubagah…jak cok ungkoet…lon hana trep peutheun ie laot.…” (Teungku, segera panggil semua orang Gampong untuk mengambil ikan-ikan ini…saya tak akan lama menahan air laut…), Agam Bakoey memohon.

Melihat keseriusan Agam Bakoey dengan keringat membahasi hampir seluruh pakaiannya, tanpa pikir lama Tengku Dayah segera berlari menuju jalan utama Gampong dengan ribuan rasa campur aduk.

Tengku Dayah tak segera menuju Meunasah utama Gampong di dusun Cot U Sibak8 yang sekaligus juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah Geuchik9, Tuhapeut10 dan Tuhalapan.11

Tengku Dayah mengambil arah Barat saat sampai di simpang pertama jalan utama. Tujuannya adalah rumah Yusuf Nazar Ben, Panglima Laot12. Rumah Panglima Laot Gampong Lancang Barat memang lebih besar dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Yusuf Nazar Ben bukan saja dituakan oleh nelayan Lancang Barat tetapi juga dituakan oleh nelayan Gampong Bluka Teubai, Tanah Anoe13 dan Kuala Keureuto Timu. Pengaruh jabatannya sebagai Panglima laot sangat luas. Keputusannya untuk menetapkan kapan melaut dan ikan apa saja yang boleh diambil dimusim tertentu akan dipatuhi. Pengalaman melautnya jauh sampai ke negeri orang putih. Kepandaiannya membaca arah angin dan perubahan musim laut sudah tidak diragukan lagi.

“Assalamu’alaikum…” Tengku Dayah mengucapkan salam dengan mengangkat telapak tangan kanannya sampai menyentuh pelipis. “ Wa alaikumussalam…pue na Tengku?, tengku pakon meukaraat-karaat. Neu duek dilee, neu jeib ie ue meu dua neuk” (Wa alaikumussalam…ada apa Teungku?, tampaknya Teungku sangat tergesa-gesa. Duduklah dulu, minumlah barang seteguk air kelapa ini) , Yusuf Nazar Ben menawarkan.

“Teurimong geunaseh Panglima. Neu eu u laot. Oe leuh krueng, Agam bakoe dipeuget meunan cit laot…Bakoey dipeuthoe ie laot mangat jeut pieleh ungkoet.” (Terima kasih Panglima. Lihatlah ke laut. Setelah Sungai, Agam Bakoey kembali melakukan hal yang sama terhadap laut. Bakoey mengangkat air laut untuk mendapatkan ikan), segera Tengku Dayah memberitakan.

Tercengang Yusuf Nazar Ben mendengarnya. Rasa penasaran menggerakannya menghambur berlari kecil menuju tepi pantai meninggalkan Tengku Dayah jauh di belakang. Di lihatnya air laut tidak lagi menggenangi daratan. Air laut mengangkasa beberapa jengkal di atas kepala orang dewasa. Jauh di arah Timur terlihat Agam Bakoey mulai lemah mengangkat air laut.

“Tengku, peu yang dimita Agam Bakoey?” (Teungku, Apa yang di inginkan Agam Bakoey?), tanpa menoleh Panglima Laut bertanya.

Tengku Dayah bersiap menjawab pertanyaan itu. Sebelum niatnya terlaksana, Panglima laut sudah mendahuluinya. “lageenyoe mantong, tanyoe bagi tugas, bahkeuh lon yang biethe keu ureung gampoeng. Leubeh ghet Tengku bhite bak Geuchik, bahkeuh gobnyan yang brie peunuetoh” (baiklah, kita bagi tugas. Biarlah saya yang akan memberitakan kepada warga. Lebih baik jika Teungku segera memberitakan ini semua kepada Geuchik. Biarlah beliau yang nantinya akan mengambil keputusan), Panglima Laot berinisiatif.

“kajeutlah …”(baiklah…), Tengku Dayah tanpa meninggalkan tanya segera bergegas menuju rumah Teuku Amri, Geuchik Lancang Barat. Dengan melewati rimbunan Bungong Seuke14 di belakang rumah Panglima Laot kemudian melintasi jalan tambak milik Salidan Tengku Prang diyakini oleh Tengku Dayah akan lebih cepat sampai tujuan.

Begitulah hari itu Lancang Barat dikejutkan untuk kedua kalinya oleh perbuatan Agam Bakoey. Ba’da isya Meunasah utama dipenuhi oleh tokoh masyarakat untuk bermusyawarah, menentukan putusan untuk Agam Bakoey.

Duduk tegak tepat di bawah mimbar Khotib, Teuku Amri. Telah hadir Tuhapeut, duduk membentuk shaff sejajar Geuchik di sebelah kanan. Abdullah Nafi anggota Tuhapeut dari Dusun Cot U Sibak, Munsir Pia dari Dusun Ujong Krueng, Thoib Pardan dari Dusun Blang Baroh15, dan yang terakhir dari Dusun Keude Mane terwakili oleh Zanibar.

Dari unsur Tuhalapan hanya lima tetua yang dapat hadir dari seyogyanya delapan, tetua yang lainnya berhalangan hadir sebab menghadiri undangan nujoh tokoh Tuhalapan di Gampong tetangga. Meskipun demikian keputusan telah diambil, quorum sudah Tuhalapan dan memastikan diri telah mewakili tiga tetua yang berhalangan hadir. Adalah Hasyim Puteh bertindak sebagai juru bicara Tuhalapan.

Dari kalangan inong16 diwakili oleh Tihajar, Cut Aisyah, Zainabon, Cut Hendon, Ainon Marliah dan Nurol Aflah. Para Inong duduk jauh di depan Geuchik, berjajar di samping pintu masuk Meunasah yang sekaligus juga pembatas antar ruang utama Meunasah dan teras. Hadir juga Panglima Laot yang duduk berjajar dengan Geujron17, Tengku Dayah, Imam Meunasah18 dan Imum Mukim.19

Etika majelis mewajibkan Geuchik membuka musyawarah terbuka. Setelah mengucapkan salam, memanjatkan do’a dan shalawat, Teuku Amri menjelaskan maksud dan tujuan musyawarah malam itu.

Geuchik selanjutnya mempersilahkan Tengku Dayah untuk menceritakan kejadian siang tadi. Dibantu oleh Panglima Laot cerita Tengku Dayahpun semakin jelas disimak.

“Ta lakee bak ureung tuha dan syedara lon seiman dan seIslam untuk peutroh peundapat yang jroh” (Silahkan kepada tetua dan saudaraku seiman dan se Islam untuk menyampaikan pandangannya), Teuku Amri menutup penjelasan Tengku Dayah dan Panglima Laot.

Terlihat Abdullah Nafi merubah sikap duduk pertanda memohon waktu menyampaikan pendapat, namun tak segera itu pula berbicara. Ranup20 yang semenjak tadi diraciknya dipadatkan sekali lagi sebelum kemudian dikunyahnya. Empat kali kunyahan ranup, Abdullah Nafi angkat bicara “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…syedara lon banbandum, bacut peundapat lon tuan tentang peu yang ka dipeugat le si Agam Bakoey, sang hana soe bantah bahwa nyan bermanfaat bagi ureung gampong geutanyoe, geutanyoe meuphom sa’at jino susah that meurumpok ungkoet di laoet, sebab jinoe tengoh meugantoe musem, ungkoet yang di cot beuno cot uroe cukop keu bekai sigoe jum’at bagi ureung gampoeng. Tapi cara yang geupeugeut lee Agam Bakoey memang hana pah bak tae u. Jinoe ta meupakat dilee dengan jroh peu hokum yang akan tabie.” (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…Lon tuan semua, ijinkan saya menyampaikan pendapat…apa yang dilakukan oleh Agam Bakoey, tampaknya tidak akan ada yang menyangkal bermanfaat bagi masyarakat kita. Kita memahami saat ini sangat sulit untuk mendapatkan tangkapan dari laut sebab terjad perubahan musim. Ikan yang diambil siang tadi dari laut cukup memberikan persediaan untuk sepekan warga. Tetapi cara yang digunakan oleh Agam Bakoey memang meresahkan. Marilah kita musyawarahkan dengan baik sangsinya. Marilah juga kita pertimbangkan manfaatnya). Ranup kembali dikunyah.

“Lon tuan ka seupakat. Dengon hana tapeutuwoe manfa’at peu ya ka dipeugeut si Agam Bakoey, lon pikee peureulee geutonyoe tabie hukoman untuk jieh. Masaalahnyoe menyangkoet keimanan ureung gampong geutanyoe. Peu yang dipeuget Agam Bakoey jeut keusaboh I’tikeud ureung gampong ke hai yang leubeh rayeuk nibak kekuasaan Allah subhana wa ta’ala. Nyoe bisa reuloeh aqidah ureung gampong geutanyoe. Menyoe nyoe kejadian jih, lon troem ngon gagi bak roeng si Bakoey” (Saya sepakat. Tanpa mengenyampingkan manfaat perbuatan Bakoey, saya fikir perlu kiranya kita memberikan sangsi untuknya. Perihal ini menyangkut keimanan warga kita. Perbuatan Bakoey akan membuat warga mempercayai kekuatan-kekuatan lain di luar kekuasan Allah Subhana wa taala. Ini akan menyurutkan aqidah warga. Jika itu yang terjadi maka saya tidak akan segan untuk memberikan tanda kaki di punggung Bakoey21) , Hasyim Puteh menyampaikan pendapatnya dengan berapi.

Imam Mukim dan Imam Meunasah menganguk kecil mempertimbangkan pendapat Tuhalapan. “Hmmm…Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.. peu yang ka geupeugah lee tuha peut dan tuha lapan ka tadeungo ban bandum”( Hmmm…Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh..apa yang disampaikan Tuhapeut dan Tuhalapan kita telah dengar semua), Bisri Abas selaku Imam Mukim mengawali. “sie golomnyan na keuh leubeh get geutanyoe dilee haba dari Agam Bakoey, pat gata hai Agam..cie langkah keunoe laju.” (Namun alangkah baiknya jika kita dengarkan langsung penjelasan dari Agam Bakoey, silahkan masuk hai Agam), Imam Mukim mempersilahkan Agam Bakoey yang baru saja datang.

Bakoey memang telah mempersiapkan diri memberikan penjelasan. Namun tetap saja tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sama halnya dengan majelis saat mengetahui kehadiran Bakoey.

“Assalamu’alaikum”, Bakoey mengucapkan salam. “Wa alaikumussalam wa rahmatullahi”, serempak majelis menjawab.

”kajeu adoe…neuduk laju… kamoe keuneuk dengoe haba peu yang ka adoe peuget beunoe cot uroe. Siegolomnyn lon tuan ateuh nan meuwakili ureung gampong geutanyoe, meupeusampoe teurimong geunaseh, seubab peu yang ka adoe peubut kajeut na keuneubah ungkoet untuk sigoe Jumeu’at nyoe. Tapi sigolomnyan peukeuh gata adoe hana gata piekee hasee jih. Khusus jih meunyangkoet agqidah. Maksud kamoe, tatakoet jeut keu syirik nibak hai yang leubeh hayeuu dari Allah kareuna kekuatan yang gata pakee” (Silahkan Nyak…duduklah…kami ingin mendengarkan penjelasan atas apa yang telah Nyak lakukan siang tadi. Namun sebelumnya ijinkan kanda mewakili majelis dan warga mengucapkan terima kasih, sebab apa yang Nyak lakukan telah menjadikan warga memiliki persediaan pangan ikan untuk sepekan. Namun apakah Nyak tidak memikirkan dampaknya, khususnya berkaitan dengan aqidah. Maksud kami, kekhawatiran terjadinya musyrik kepada kekuatan selain kekuatan Allah akibat kekuatan yang Nyak gunakan), Teuku Amri memulai pembicaraan.

Tanpa menunggu lama. Dimulai dengan melafalkan Bismillahirrahmanirrahiim dengan syiir (Arab:halus). Agam Bakoey memulai penuturannya. “Takzim lon tuan bak urueng syiek ban bandum, nakeuh peu yang lon peugeut, hana maksud dan tujuan sapeu-sapeu”. (Lon tuan, dengan hormat sedalam-dalamnya. Sungguh perbuatan saya tidak bermaksud dan bertujuan apa-apa). Majelis mendengarkan dengan khidmat kata demi kata yang disampaikan Agam Bakoey.

“Lon tuan nakeuh dari biek yang biasa-biasa mantong, Lon hana ileume, Meuphom lon awak droneh menyoe kamoe biek yang bangai nyoe sabee hana diboeh yum le biek-biek laen. Ulon tuan, sadar dengan hainyoe. Lagee hana pantah sidroe aneuk dara galak keu lon, karena hana yang lubeh bak lon” (Lon tuan, saya dan keluarga saya bukanlah kalangan terpandang. Saya tidak punya pendidikan yang layak. Mahfum kiranya jika keluarga saya yang lugu dan sahaja akan selalu dipandang rendah oleh keluarga lainnya. Ulon tuan, saya sadar dengan kondisi. seperti itu tak layak bagi seorang gadis tertarik menjadi pendamping saya, tak ada yang patut saya banggakan). Terengah nafas Agam Bakoey menahan sesak di dada, terlintas wajah umi dan ayahnya, yang untuknya adalah figur ushwah dalam hidup. Bakoey menganggap dirinya belum mampu memberikan yang terbaik dan mampu dibanggakan oleh keduanya.

“Hana mungken lon na kekuatan pienah ie laoet lagenyan bagoe meunyoe kon na izin Allah. Lon peugah lom sigoe teuk, hana mungken jeut lon peugeut lagennyan menyoe hana ridha Allah. Bahkan lon hana kuasa lon tarek meusiekrek nafah menyoe hana izin Allah. Kuasanya nyan neukeuh poe Allah, kon kuasa lon” (Tak mungkin saya memiliki kekuatan untuk mengangkat air laut sedemikian rupa tanpa ijin dari Allah. Saya tegaskan, tidak mungkin saya dapat melakukan itu semua tanpa ridhlo Allah. Bahkan saya tidak akan mampu menarik sehembus nafas sekalipun jika Allah tidak mengijinkan. Kekuatan itu milik Allah, bukan saya yang memiliki), lantang penjelasan Bakoey kali ini.

“Saya meyakini benar, dengan lisan, dengan hati dan perbuatan, bahwa Allah akan melapangkan segala jalan bagi makhlukNya. Saya meyakini benar Allah akan

mempermudah segala urusan makhlukNya. Saya mengangkat air sungai dan laut hanya untuk mempermudah warga kita mendapatkan kebutuhan lauk pauknya. Bukankah hasil melaut kita saat ini kurang baik?, bukankah hasil panen ladang kita juga belum memenuhi lumbung?. Terketuk hati melihat penderitaan yang diderita, saya memohon kepada Allah untuk memberikan kekuatan agar mampu menyibak air sungai dan laut. Saya men-azamkan diri atas kekuasaan tak terhingga yang hanya dimiliki oleh Allah. Dialah sang Maha, tidak ada selain itu. Saya serahkan seluruh hidup dan kehidupan kepadaNya. Saya ikhlaskan kepadaNya segala jiwa dan nyawa. Saya tunduk atas titahNya. Ulon tuan silahkan memutuskan sangsi yang setimpal bagi saya. Namun itu semua tidak akan pernah menghapus apa yang telah saya azamkan, azam terhadap tanpa batas kekuasaan Allah. Subhanallah”. Terkulai lemas dan tak bertenaga Agam bakoey dipenjelasan terakhirnya.

“kajeutlah, kaleuh ta deungoe haba bak Agam Bakoey, syedara-syedara ban bandum jinoe mariekeuh geutanyoe tacok saboh peuneutoh yang jroh”(Baiklah…demikian penjelasan Agam Bakoey. Ulon Tuan sekalian. Marilah kita putuskan seksama), ajak Teuku Amri.

“Adoe lon Bakoey, nakeuh niet dan azam adoe yang na dalam hate nakeuh hai yang paleng meu peuhamba droe nibak Allah yang paleng jroh. Lon pih hana teunte jeut lon pubuet lagenyan. berbahagialah adinda.Allah ka geupeuteutap hate adoe. Allah tetap geubuka dan peulapang jalan adoe. InsyaAllah. Peujalan laju peu yang kajuet ke azam dalam hate dan jiwa adoe. Bek rhoet seumangat. Allah cukp that galak nibak ureung yang peuseurah droe.(Dinda Bakoey, sungguh niat dan azam Nyak yang telah lebur dalam hati ialah bentuk pen-hambaan kepada Allah yang luar biasa. Saya pun belum tentu dapat melakukan itu. berbahagialah Nyak. Allah akan menetapkan hati Nyak. Allah akan tetap membuka dan melapangkan jalan Nyak. Insya Allah. Teruskan apa yang telah menjadi azam dalam hati dan jiwa Nyak. Jangan melemah. Allah menyukai hambaNya yang berserah).Imam Munasah yang sedari tadi diam membuka kata dengan sahaja.

Teuku Amri dengan tanda khusus meminta Tuhapeut, Tuhalapan, Imam Mukim, Imam Meunasah, Tengku Dayah, Panglima Laot dan para Inong membentuk lingkaran kecil untuk mengambil keputusan. Tak berapa lama. Mufakat telah dicapai. Bulat sudah para tetua mengambil sikap.

Dua kunyahan ranup. Para tetua Gampong Lancang Barat kembali ke tempat duduk semula. Kini Agam Bakoey berada di tengah-tengah majelis. Wajahnya mengahadap Geuchik dengan sikap tegar berhias senyum sejuk.

“Hai adoe peukeuh gata teurimong mandum peuneutohnyoe?”(Adinda,siapkah Nyak menerima segala putusan?), tanya Teuku Amri.

“Bi idznillah, Bismillahirrahmanirrahiim, Insya Allah….”, tegas Bakoey.

Teuku Amri tersenyum bangga. “Hai adoe, kaleuh kamoe seumiekee yang jroh, kamoe cok saboh peuneutoh yang muslihat bagi geutanyoe ban-bandum.”( Adinda, kami telah pertimbangkan sebaik-baiknya. Kami telah telah putuskan dan tetapkan untuk kemaslahatan kita semua), sampai dengan kalimat ini Teuku Amri menghentikan sejenak pernyataannya. Matanya menyapu semua yang hadir. Memohon ijin untuk mewakili dan melanjutkan putusan. Tidak ada yang berniat menghentikan pernyataan Teuku Amri tampaknya.

“Adinda, Bismillahirrahmanirrahiim, kamoe lakee adoe beujie’oh dari gampong. Peuneutohnyoe nakeuh untuk tajaga aqidah ureung gampong geutanyoe. Sampoe kamoe anggap aqidah ureung gampong hana lee teuganggu dengon peu yang ka adoe peugeut. Sigra kamoe meuhoi adoe waoe lom u gampong. Lageenyan peuneutoh kamoe.”( Dinda, Bismillahirrahmanirrahiim, kami putuskan untuk mengasingkan Dinda jauh dari Gampong. Ini kami putuskan demi menjaga aqidah warga. Sampai dengan kami menganggap aqidah warga tidak terganggu dengan perbuatan Dinda, segera kami persilahkan Dinda kembali. Demikian putusan kami. Begitu Lon Tuan?). Teuku Amri memohon kesepakatan.

“nyow pakat that”( Iya…setuju), majelis menegaskan.

-0-

“Minumlah dulu air kelapanya nak. Sudah seharian ini ayah belum melihatmu minum. Di dalam sana umi sudah menyiapkan gulai tongkol”. Pak Lah yang telah saya anggap sebagai ayah sendiri memecah kesima kisah Agam Bakoey. Hari itu memang cukup melelahkan. Terik matahari pantai Blang Nibong seakan membakar jauh pori-pori kulit.

Beberapa teguk saya minum air kelapa muda yang disediakan ayah. Terasa segar. Angin laut menepis kesadaran akibat pesona kisah. Saya tetap duduk termangu di depan ayah.

“Azamkan hatimu nak. Raih apa yang kau citakan. Jangan menyerah jika engkau telah tetapkan niat. Jangan kembalikan langkahmu pulang. Kamu masih muda. Dan Allah menyukai orang muda yang menetapkan hati dan niat di jalanNya. Berbanggalah menjadi pohon kelapa yang menjulang sehingga daunnya diterpa angin serta badai, menjulang menyebabkan kamu punya banyak pandangan. Khasanah ilmu dan pengetahuanmu akan bertambah. Jika kamu tidak menginginkan diterpa badai, jadilah rumput. Akan terinjak dan sulit mendapatkan matahari”, ayah menutup kisahnya. Tangannya yang tegap mengajak saya masuk kedalam rumah.

Subhanallah…..

1 Cak-cak kreng tho’ laot (Aceh), arti maknawinya mengeringkan laut
2 Gampong (Aceh); Kampung atau Desa. Saat ini setingkat dengan wilayah administrasi Kelurahan.
3 Agam, Gam (Aceh); panggilan untuk pemuda atau anak laki-laki yang beranjak dewasa.
4 Lancang Barat (Aceh); nama Desa di Aceh Utara. Secara harfiah berarti menghadap ke arah Barat. Konon nama ini berkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Aceh dalah hal ini masyarakat Lancang Barat mengusir Pasukan Belanda yang memasuki wilayah Aceh dari Arah Barat.
5 Meunasah (Aceh); Mushola. Walaupun demikian dari segi ukuran Meunasah memiliki luasan lebih jika dibandingkan dengan masjid di Pulau Jawa.
6 Ujong Krueng (Aceh); arti harfiahnya ujung sungai.
7 Teungku Imum (Aceh); gelar tokoh masyarakat Aceh yang disebabkan seseorang memiliki kemampuan lebih memakmurkan mushola atau masjid.
8 Cot U Sibak (Aceh); arti istilahnya bukit yang membelah aliran air.
9 Geuchik (Aceh); Kepala Kampung, Desa atau Kelurahan. Sampai saat ini istilah Geuchik masih digunakan masyarakat Aceh.
10Tuhapeut (Aceh); arti harfiahnya empat tetua Kampung. Istilah ini meunjuk kepada lembaga dan atau mekanisme pengambilan keputusan masyarakat yang masuk dalam jajaran perangkat Desa/Kelurahan. Tuhapeut dalam pemerintahan Desa atau Kelurahan di Jawa sepadan dengan Lembaga Masyarakat Desa (LMD). Istilah ini masih digunakan masyarakat Aceh.
11Tuhalapan (Aceh); arti harfiahnya delapan tetua Kampung. Sama halnya dengan Tuhapeut, keberadaan Tuhalapan sangat penting dalam mekanisme pengambilan keputusan masyarakat. Di Jawa istilah ini sepadan dengan LKMD. Istilah ini masih digunakan masyarakat Aceh.
12Panglima Laot (Aceh); arti harfiahnya panglima laut. Menunjuk pada seseorang yang oleh karenanya memiliki kemampuan mengorganisasikan nelayan. Istilah ini masih digunakan masyarakat Aceh.
13Bluka Teubai (Aceh); arti harfiahnya belukar tebal. Nama sebuah Desa di wilayah administrasi Aceh Utara. Tanah Anoe (Aceh); arti harfiahnya tanah pasir.

14Bungong Seuke (Aceh); arti harfiahnya bunga atau pohon pandan. Jenis pepohonan ini masih mudah ditemui disepanjang pesisir pantai utara Aceh.
15 Blang Baroh (Aceh); arti harfiahnya sawah di sebelah Barat.
16 Inong (Aceh); arti harfiahnya perempuan
17Geujron (Aceh); Jabatan dalam pranata sosial bagi seseorang yang dengan kemampuannya memiliki keahlian untuk melakukan pengelolaan air sawah (irigasi), menentukan kapan musim tanam dan apa yang cocok ditanam. Dibeberapa wilayah di Aceh jabatan ini masih ada.
18Imam Meunasah (Aceh); sama halnya dengan Teungku Imum. Perbedaannya ialah Imam Meunasah mengelola masjid utama.
19Imam Mukim (Aceh); Gelar dan jabatan dalam pranata sosial di Aceh yang ditujukan kepada seseorang yang memiliki pengaruh untuk memberikan pertimbangan kepada mayarakat di wilayah administrasi Kecamatan.
20 Ranup (Aceh); Sirih. Dalam tradisi masyarakat Aceh, mengunyah sirih juga dilakukan oleh pria.
21 “Memberikan tanda kaki di punggung”; istilah dalam komunikasi verbal masyarakat Aceh yang memiliki arti tindakan menendang sangat keras sehingga meninggalkan bekas di punggung seseorang


Catatan penting :

Essei ini gubahan dari cerita rakyat Meulaboh “Agam Bakoey”. Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kepada seluruh masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam, saya memohon untuk segera melayangkan kritik dan saran apabila saudaraku menemukan ‘kejanggalan”. Kesamaan nama tokoh dan lokasi memang tidak dapat dihindari dalam penulisan essei ini. Namun demikian nama tokoh dan lokasi dalam essei ini tidak mewakili kondisi sebenarnya. Bebarapa bagian essei ini diadopsi berdasarkan jurnal dan rekaman perjalanan saya selama berada di Aceh, termasuk percakapan saya dengan Ayah Lah.

Eseei ini wujud terima kasih saya kepada masyarakat Aceh yang telah banyak memberikan pelajaran berharga untuk hidup dan kehidupan saya. Untuk Ayah Abdullah Nafi sekeluarga (terima kasih ayah, anakmu ini akan tetap menyematkanmu dalam hati). Essei ini merupakan ucapan terima kasih kepada: Teungku Muda dan keluarga (sahabat yang tak lelah mengingatkan saya untuk tetap memuliakan hidup, Semoga Allah SWT menyandingkan berkah untukmu dan keluargamu),Amrizal, teman-teman Re-Kompak NAD dan Nias di Banda Aceh, Meulaboh, Lhokseumawe, Tapak Tuan, Aceh Utara dan Bireun seperti; Ikhsan “my boss” Anoem, Orizon Fernando Situmorang (live must be stand up bro!!!), Yulianto, Hendri, Anton Wibisono (Absolutly Architect), Aditia, Joe, Iis “roi” Widiati..keep away your feet from concrete, Mr. Peter Feith, Mrs.Geumala Yatim, Mr. Alan –Oxfam- Gregor (Jogja is always be there dude…),Mr. Dave –the mirror man- prhachoyang, Thoib “si mbah” Soebhianto.

Rakanda Geuchik Gampong Bangka Jaya, Rakanda Geuchik Gampong Bluka Teubai, Teungku Dayah Gampong Bangka Jaya yang telah mengajarkan saya mengaji dan mempelajari “Hikayat Perang Sabil”, Bang Saiful dan adik kecil saya; Nailul Azmi (semoga Nailul menjadi Insinyur seperti saya bang ), Bang Hamdan yang telah memberikan kesempatan saya belajar dan menikmati ranup, Bang Salidan yang telah mengajak saya melayang bersama “bungong bakung” di tepi pantai Bireun (its amazing rasta), Bang Putra “penguasa simpang peut Panglateh”, Teungku Bob; Panglima Sagoe Bujang Salim dan rekan. Seseorang yang tidak bisa saya sebutkan namanya, dengannya saya diberikan kesempatan untuk mempelajari lebih dalam Gerakan Aceh Merdeka dan berkesempatan menjabat erat tangan “sang mentro” Malik Mahmud .

Kepada Nanggroe Aceh Darussalam, i love you all, it is my 2nd home land…it is a real Nanggroe….i’ll be back again..Insya 4UI…Terakhir untuk Cut Kiki Beuransyah pemilik mata biru-coklat yang tidak bisa saya hindari untuk tidak menikmati kecantikan luar biasanya. Andai saja saat itu hati tak terpagut .

bôh manôk nyan mirah, sie nyang meugapah, inoeng nyang ceudah beurangkasoë pih hawa; telor ayam mirah, lemak daging, perempuan yang cantik pasti semua mau.

Saturday, June 07, 2008

Renungan Suami Istri



lelaki mengbanggakan setiap kesuksesan dan prestasi yang dicapainya,

sementara wanita, lebih mendambakan sentuhan dan kehangatan cinta dari pasangannya.

lelaki merasa merasa termotifasi, jika senantiasa merasa dibutuhkan oleh pasangannya.

sementara wanita akan termotivasi jika mereka dihargai .

selalu ada perbedaan yang acapkali mendatangkan kesalahpahaman.

untukmu para suami

sadarilah..................

saat kecemburuan menyergap hati istrimu, bersabarlah untuk memahami setiap keinginannya dan lebih mendekatlah padanya.

untuk para istri

lelaki bisa memahami apa saja kecuali satu hal

terkadang dia membutuhkan ruang perenungan sendiri dimana engkau tidak diizinkan memasuki rauang itu.

mungkin engkau berfikir.......................

suamimu sungguh egois.

ketahuilah

adakalanya suamimu akan berlaku egois

untuk mengukuhkan jati dirinya

dan sesuatu yang sulit dipahami adalah hati wanita.


Ditulis oleh Salah Seorang Suami Yang Baik

Thursday, May 22, 2008

Kebangkitan nasional di tengah pesimisme massal

Kebangkitan nasional di tengah pesimisme massal1
Oleh : Imron Rosidin2

100 tahun sudah bangsa ini berdiri tegak dengan semangat kebangkitannya. Kita semua sepakat untuk tidak menjadikan momentum kebangkitan ini menjadi ritual massal berskala nasional. Kita semua menyadari bahwa setiap kita memiliki konsekuensi tanggungjawab sebagai bagian dari apa yang disebut nasionalisme, sebab kita adalah individu-individu dengan identitas kebangsaan Indonesia. Nasionalisme menjadikan kita tidak hanya memiliki identitas kebangsaan, nasionalisme menjadikan kita sebagai pribadi yang mau tidak mau bertanggungjawab pula terhadap keberlangsungan dan kelestarian nasionalisme. Apapun konsepsi dasar, pemahaman dari interpretasi tekstual dan konseptualnya, keyakinan dari implementasinya, nasionalisme nyatanya menunjuk diri kita sebagai “yang ber-identitas Indonesia”.

Sebagai “yang ber-identitas Indonesia” maka recana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kemudian disikapi dengan dilema Bantuan Langsung Tunai (BLT) plus bagi masyarakat merupakan sebuah fenomena yang tidak bisa disikapi dengan kebijakan-kebijakan lokal. Tidak kurang Menteri koordinator kesejahteraan rakyat menyebut secara implisit, bahwa permasalahan rencana kenaikan harga BBM termasuk penyikapannnya melalui BLT termasuk pada klasifikasi permasalahan kluster keamanan sosial (Pikiran Rakyat 15 Mei 2008). Kita boleh saja bertanya, kenapa permasalahan ini memiliki korelasi dengan kondisi keamanan?, lalu siapa yang mengamankan apa dan atau siapa?, kehidupan sosial milik siapa yang dimaksud?, jaminan keamanan yang berlaku untuk siapa dan sampai kapan itu berlaku?.

Jika momentum kebangkitan nasional tahun ini diwarnai dengan hiruk pikuk rencana kenaikan harga BBM maka sejatinyalah nasionalisme tidak akan pernah luntur oleh karenanya. Nasionalisme ibarat sampan berpenumpang massal di tengah-tengah lautan luas, diterjang ribuan gelombang realitas selama seratus tahun, pernah mengalami rengkah akibat krisis moneter dan keraguan kolektif dalam perjalan menuju reformasi.

Namun lihatlah, nasionalisme apapun bentuknya saat ini tetap bersahaja di tengah –tengah lautan tak bernama. Nasionalisme menjadikan kita sebagai masyarakat warga yang yakin tengah mengayuhkan dayung ke arah yang tepat menuju kesejahteraan bersama, meskipun dengan metodologi yang berbeda. Kita masyarakat warga terbukti telah bersama mengarungi lautan problematika bersama bangsa. Kita teruji oleh waktu.
Dalam dimensi yang sedikit berbeda, Justifikasi terhadap pentingnya menaikan harga BBM tentu saja tidak semerta lahir dari analisis instan kondisi perekonomian global saat ini. Dalam skala nasional juga telah disadari, analisis dampak kenaikan harga BBM 30 persen secara umum akan menaikkan tambahan inflasi 1,8-2,5 persen yang berarti akan terjadi penurunan daya beli masyarakat secara luas dan signifikan. Dalam kondisi ini, upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan transfer untuk mengembalikan daya beli, dengan uang, subsidi raskin, minyak goreng, dan kedelai. Jadi, ini bukanlah sebuah konsep yang baru. BLT dalam hal ini juga tidak bisa dinyatakan sebagai solusi instan tapi satu hal yang terencana.
Reaksi keras dari masyarakat, tokoh masyarakat, pemimpin lokal masyarakat, kalangan birokrat dari mulai RT, RW, Lurah, Kepala Desa, Camat sampai dengan Walikota dan Bupati lebih terdengar keras menyuarakan penolakan terhadap penyikapan yang diberlakukan kepada masyarakat berupa BLT daripada kenaikan BBM-nya. Mahasiswa yang justru lebih keras meneriakan penolakan rencana kenaikan BBM daripada rencana penyikapan dalam bentuk BLT plus.
Yang menarik untuk diungkapkan disini ialah, pertama, tumbuh kembangnya kebangkitan nasional memang harus diakui lahir dan bersemi di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat memahami –dengan segala keterbatasannya- penolakan rencana kenaikan harga BBM berdasar pengalaman historis akan tetap berujung pada ketetapan negara untuk menaikan harga BBM. Energi kolektif dirasakan terlalu mubadzir digunakan untuk menolak rencana kenaikan harga BBM. Kedua, pengalaman historis membuktikan masyarakat –dengan seluruh usaha maksimalnya- tetap bertahan meskipun berkali-kali harga BBM naik. Bukankah ini kebangkitan nasional sesungguhnya?.

Ketiga, kebangkitan nasional mensyaratkan terjadinya perubahan sikap menuju ke arah berkehidupan yang lebih baik. Inilah yang tengah diajarkan masyarakat kepada negara ini dengan melakukan “dialog” bersama kebijakan penyaluran BLT plus yang secara praktis justru membahayakan keamanan sosial sebenarnya. Di ranah edukatif, BLT plus di proyeksi bukanlah medium yang tepat untuk mendidik cara berkehidupan yang baik bagi masyarakat.
Optimisme menatap masa depan seperti layaknya yang diharapkan dari kebangkitan nasional tampaknya telah terlebih dahulu dimaknai oleh masyarakat Indonesia. Namun tidak sebaliknya oleh negara ini, pesimisme menanggulangi gejolak keamanan sosial menjadikan rencana kenaikan harga BBM tampaknya akan tetap berlanjut. Sementara itu, BLT semakin memperjelas pesimisme negara ini untuk melakukan perubahan sikap massalnya kepada masyarakat warga.
Pesimisme ini sepertinya akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari agenda kebangkitan nasional setiap tahunnya, jika dan hanya jika negara ini tidak bijak belajar dari apa yang masyarakat warga ungkapkan dengan penuh sahaja. Nyatanya memang kebangkitan nasional memang milik masyarakat warga.
Mungkin ada pendekatan dan sistem aplikasi yang berbeda dalam memaknai kebangkitan nasional ini oleh negara, ditandai dengan tetap berencana menaikan harga BBM dan juga tetap dengan skenario BLT nya. Semoga pada tahun yang ke-101 kebangkitan nasional Indonesia semua dapat benar-benar merasakan kebangkitan dan belajar bersama arti kebangkitan untuk semua.

1 Ditulis untuk Harian Umum Pikiran Rakyat. DAS Citarum, 14 Jumadil Uula 1429 H.
2 Pekerja Sosial. Green Peace Indonesia (supporter ID 4586)

Monday, March 24, 2008

Islam Aceh Vs Islam Jawa

Tulisan ini bukanlah bermaksud untuk menimbulkan kontraversi, mencari sensasi atau provokasi Aceh dengan Jawa. Dan tulisan ini juga tidak bermaksud menggores kembali luka ketidak harmonisan sebagian bangsa Aceh dengan bangsa Jawa yang pada saat ini suduh mulai sembuh. Tapi tulisan ini hanyalah sebuah review perkembangan sejarah masuknya Islam di Nusantara yang di mulai dari Perlak dan Pasei(Aceh) hingga berkembang maju di negeri Jawa dan Asia Tenggara .

Kedudukan manusia dan kebudayaan di bumi Aceh senantiasa menyatu antara satu dengan lainnya. Sebelum Islam datang ke Aceh, orang-orang Aceh dengan baiknya tunduk dan patuh kepada ajaran agama Hindu dan Budha yang menjadi kepercayaan mereka. Sebaliknya setelah Islam dating sampai ke hari ini seratus persen bangsa Aceh menerimanya dan mengamalkan dalam kehidupan mereka secara sempurna sehingga susah mau dipisahkan antara Aceh dengan Islam, demikian menyatunya Islam dengan Aceh dan bangsanya.

Penyatuan ini disifatkan oleh para pakar sejarah Aceh sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan di antara keduanya. Karena keadaan yang demikian dekat maka mereka menukilkannya sebagai hokum Islam di satu sisi dan adat Aceh di sisilain, keduanya senantiasa menyatu dan tak boleh dipisahkan sampai kapan pun. Hadih Maja (pepatah Aceh yang mengandung makna hukum) mengisyaratkan suasana ini sebagai Hukôm ngön adat lagèè zat ngön sifeute (hukum dengan adat seperti zat dengan sifat)

Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam pertama bertapak adalah di Perlak (sekarang Peureulak) Aceh Timur. Dari sinilah Islam dan kebudayaan Islam itu bermula serta menyebar ke seluruh tanah melayu dengan berbagai aktivitas yang dijalankan ummatnya. Masyarakat Aceh pada masa itu dengan mudah sahaja dapat menerima dan menyatu dengan Islam serta budaya yang dibawa Islam itu sendiri. Keadaan ini sangatlah berbeda dengan kondisi dan situasi masyarakat pulau Jawa yang lebih memilih Hindu dan lari ke pulau Bali ketika Islam dibawa Falatehan dari Pasai ke sana. Sampai sekarang keadaan orang jawa masih sangat terikat dengan kebudayaan Hindu dan Jawanya. Inilah yang membuat seorang perwira muda Republik Islam Aceh (RIA) S.S Djuangga Batubara menyayangkan :”Adalah sangat menyedihkan kiranya bagi orang Islam Jawa, ikatan darah Jawa lebih kental daripada ikatan Islam”. Apabila berhadapan antara Islam dengan Jawa, mereka tetap memilih Jawa dan meninggalkan Islam, seperti kasus penerimaan azas tunggal Pancasila sebagai pengganti Islam di masa Orde Baru pimpinan Soeharto. Penolakan B.J. Habibie yang bukan Jawa yang terkenal dekat dengan Islam coba maju untuk menjadi Presiden RI ketiga, maka ramai-ramai orang Jawa mengganjalnya dengan menolak pertanggung jawabannya sebagai presiden pengganti Soeharto. Sebaliknya orang-orang Jawa tersebut berlomba-lomba mempersiapkan Abdurrahman Wahid yang sekuler dan plin plan lagi buta menjadi presiden RI keempat. Selanjutnya ketika berhadapan antara Hamzah Haz dengan Megawati Soekarnoputri dalam rangka merebut kursi wakil presiden, maka semua orang Jawa di MPR termasuk Amin Rais menggalang kekuatan untuk memilih Megawati dan membiarkan Hamzah Haz karena Mega orang Jawa dah Hamzah orang Kalimantan. Dan terakhir Golkarnya Jawa lebih ikhlas memperjuangkan Sosilo Bambang Yudoyono yang Partai Demokrat sebagai Presiden dengan menempatkan Yusuf Kalla sebagai Wapres karena bukan Jawa walaupun GOLKAR. Kondisi seumpama ini masih banyak terjadi dalam persoalan dan tempat yang berbeda.

Kondisi serupa juga dapat dilihat ketika tokoh Idealis Islam Prof dr. Deliar Noer mengajak tokoh veteran Nahdhatul Ulama (NU), K.H.Masyku untuk tetap bertahan dengan azas Islam dan menolak azas tunggal Pancasila sebagai dasar organisasi itu dalam era Orde Baru pimpinan Soeharto. Pada masa itu sang Kiai menjawab : “hanya kamu sahaja yang Nampak idealis di Negara yang serba Pancasila ini”. Lain pula dengan tanggapan A.R Fachruddin yang memimpin Muhammadiyah waktu itu, ketika sang professor mengajaknya untuk bertahan dengan Azas Islam, setelah kehabisan cara dan hujjah untuk menolaknya dengan ucapan yang sangat tulus menjawab : “saya ini kan orang Jawa professor ”, sangat susah untuk menolak ajakan pemimpin Jawa. Para pakar poltik menafsirkan bahwa bagi orang Jawa ungkapan ini bermakna ; apabila berhadapan Islam dengan Jawa maka mereka akan memilih Jawa dan meninggalkan Islam.

Dengan keadaan seperti itu maka tidaklah mengherankan kita kalau ada orang yang berkesimpulan, persoalan kemajuan dan idealism Islam tidak mungkin ada di Jawa dan tidak bias kita harapkan pada orang-orang Jawa. Mereka yang berkesimpulan demikian mangaitkan kesimpulannya itu kepada adat dan budaya hidup orang-orang Jawa baik di Jawa, di luar Jawa maupun luar negeri. Persoalan tidur satu rumah yang tidak punya kamar oleh dua sampai tiga pasang keluarga menjadi perihal biasa kepeda mereka sehingga bias saling melihat dalam setiap aksi dan kegiatan. Mandi satu tempat yang bercampur laki dan perempuan tampa busana yang memadai sudah lumrah dan menjadi budayanya mereka. Mandi dan buang air secara beramai-ramai di sungai dan tempat-tempat terbuka lainnya bukan hal yang aneh bagi mereka. Sehingga demikian maka patutlah kita simak pepatah Aceh yang menyebutkan : “Meunyö kon droe mandum gob, meunyö kon ie mandum luhob dan meunyo kon pageue mandum jeuneurob”(kalau bukan diri semua orang. Kalau bukan air semua lumpur dan kalau bukan pagar semua tiang). Untuk itu orang Aceh berkesimpulan : “Bu bit, ie bit, ma droe, du droe, biek droe dan nanggroe droe”.

Monday, March 17, 2008

TAMADDUN ACEH

Tamaddun berasal dari perkataan Arab maddana yang berarti membina suatu Bandar/kota atau seseorang masyarakat yang mempunyai peradaban. Perkataan tamaddun dapat diartikan kepada keadaan hidup bermasyarakat yang bertambah maju. Istilah-istilah lain yang sama pengertiannya dengan tamaddun adalah : umrah, hadarah, madaniah. Dalam bahasa Inggris, istilah yang hamper sama dengan tamaddun adalah: “culture dan civilization” atau kebudayaan dalam bahasa melayu.

Tamaddun Aceh pernah jaya raya pada masa kerajaan Peureulak, Samudera Pasee dan masa Iskandar Muda sebagai side effect daripada kemantapan system pendidikan yang ada. Zawiyah Buket Cebrek, Zawiyah Cot Kala dan Jami’ah Baiturrahman telah berhasil mengangkat peradaban Islam Aceh keseluruh penjuru Asia Tenggara. Pada masa itu pula Aceh memiliki banyak ulama,intelektual,pakar politik,dan pedagang-pedagang beken. Pada masa kerajaan Peureulak dan Samudera Pasee Aceh dapat mengembangkan Islam dan Ilmu pengetahuan sampai ke Pattani (Thailand Selatan), Moro (Filipina Selatan). Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Jawa.

Sementara pada masa Al-Qahhar Aceh dapat menjalin hubungan internasional yang erat dengan Negara-negara dikawasan eropah terutama sekali dengan turki. Dan pada masa Iskandar Muda menjadi lima besar Negara adidaya Islam di permukaan bumi. Semua itu menjadi sisi penting manifestasi tamaddun dan peradaban masa silam bagi Naggroe Aceh Darussalam.

Peradaban Aceh masa silam susah dipisahkan dengan Islam, boleh jadi karena ia bangkit dan jaya bersama maju dan jayanya Islam di Aceh dan Nusantara. Sebagai sebuah agama komplit dan komprehensif, Islam mempunyai system peradaban muslihat dan bermartabat. System tersebut telah turun dan membaur dengan peradaban Aceh melalui penyebaran Islam semenjak dari Peureulak, Samudera Pasee, Kerajaan Aceh Darussalam sampai kepada kepemimpinan para ulama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh).

bersambung............................


*)Sumber : Buku Tamaddun Aceh

Saturday, March 01, 2008

HIKAYAT PRANG SABII

Salam alaikum walaikôm teungku meutuah
Katrôk neulangkah neulangkah neuwôe bak kamôe
Amanah nabi ya nabi hana meu ubah-meu ubah
Syuruga indah ya Allah pahala prang sabi

Ureueng syahid la syahid bek ta khun mat
Beuthat beutanl ya Allah nyawoung lam badan
Ban sar keunung la keunung senjata kaf la kaf
Keunan datang l ya Allah pemuda seudang

Dimat kipah la kipah saboh bak jaroe
Jiprh judo woe ya Allah dalam prang sabi
Gugur disinan-disinan neuba u dalam-u dalam
Neupudük sajan ya Allah ateuh kürüsi

Ija puteh la puteh geusampoh darah
Ija mirah ya Allah geusampôh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Wat tapandang ya Allah seunang lam hatee

Darah nyang ha-nyi nyang ha-nyi gadôh di badan
Geuganto l tuhan ya Allah deungan kasturi
Di kamoe Aceh la Aceh darah peujuang-peujuang
Neubi beu mayang ya Allah Aceh mulia

Subhanallah wahdahu wabi hamdihi
Khalikul badri wa laili adza wa jalla
Ulon peujoe pô sidroe pô syukur keu rabbi ya aini
Keu kamoe neubri beusuci Aceh mulia

Tajak prang meusôh beureuntôh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu pô yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe rôh
Syuruga tan roeh rugoe rôh bala neuraka

Soe-soe nyang tem prang cit meunang meutuwah teubuh
Syuruga that roeh nyang leusoeh neubri keugata
Lindông gata sigala nyang muhajidin mursalin
Jeut-jeut mukim ikeulim Aceh mulia

Nyang meubahagia seujahtera syahid dalam prang
Allah peulang dendayang budiadari
Oeh kasiwa-sirawa syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamông syuruga tinggi

Budiyadari meuriti di dông dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judô teungku syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamông syuruga tinggi.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Tuesday, December 18, 2007

Kami Sekeluarga Mengucapkan
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1428 H
Mohon Maaf Lahir Batin

IKHLAS BERKURBAN...TINGKATKAN SOLIDARITAS

TTD
TENGKU MUDA & YANTI

Saturday, October 27, 2007


SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALA ILA HAILLALAH ALLAHU'AKBAR,
TELAH LAHIR KADER DAKWAH, PUTRA PERTAMA DARI

TENGKU MUDA(MUDA) & D1ND4(YANTI)
DALAM KEDAAN SEHAT DENGAN BERAT 3.5 KG TADI PAGI JAM 5.45 WIB DI BIREUN,
MOHON DO'ANYA
INSYAALLAH AKAN MENJADI PEMIMPIN SHAF MUJAHID DAKWAH...AMIN

Tuesday, October 23, 2007

Seulangke

Menurut adat istiadat Aceh, pergaulan anak gadis dengan pemuda sebelum nikah amat tabu meskipun dalam “ikatan pertunangan“, apalagi pacar-pacaran sampai malam hari. Anak gadis diibaratkan boh mamplam dalam oen (buah mangga dalam daun). Ikatan pertunangan adalah proses mekanisme kematangan menuju pernikahan. Sebelum nikah belum halal bersentuhan apalagi seperti suami istri, meskipun sudah bertunangan. Ingat! ”Nikahlah” yang menghalalkan hubungan (full-conteks/suami-istri). Bagi adat Aceh, “Agama ngoen adat, lagei zat ngoen sifeut”.

Tahapan pernikahan didahului dengan mengajukan lamaran “meulakee” melalui “seulangke” (penghubung). Amat tabu pemuda melamar langsung pada calon mertua. Bila seulangke berjalan, peran orang tua, keuchik dan imum meunasah/teungku sagoe terlibat langsung. Upacara itu sederhana menurut kemampuan masing-masing dan merupakan elemen perekat dengan memberikan “tanda kong narit/tanda penguat“ kepada calon istri, berupa cincin atau harta benda berharga lainnya. Dengan pertunangan, dapat dipastikan gadis itu sudah dipagari untuk tidak boleh dilamar lagi oleh pemuda lainnya. Orang tua, keuchik/ imeum meunasah menjadi saksi untuk memelihara dan memberikan penga*manannya

Selama “masa pertunangan”, masing-masing pihak dapat memantau dari jarak jauh/dekat tentang perilaku masing-masing termasuk keluarga. Sejak itu, kontak keluarga (hubungan keluarga) kedua belah pihak mulai terjalin. Para calon tidak boleh bergaul bebas, paling-paling hanya dapat mengirim pesan melalui orang-orang yang dipercainya atau melalui hubungan antarkeluarga. Bila salah satu pihak memutuskan hubungan pertunangan (wanprestasi), maka mereka diberikan sanksi sebagai risiko atas kerugian moril. Bila yang memutuskan pemuda (keluarga laki), maka materi yang telah diberikan sebagai pengikat pertunangan, menjadi hak penuh keluarga gadis. Sebaliknya, bila pihak gadis (keluarga gadis) memutuskan, maka didenda sebesar “caram/tanda mata” yang telah diterima pada pertunangan dan wajib mengembalikan caram/tanda mata yang telah diterima saat pertunangan. Jadi, dendanya bukan dua kali, melainkan sekali sebesar yang diterima semula tambah bawaan caram dari pemuda dulu.
Seulangke diperankan oleh seseorang yang berwibawa dan berakhlak mulia, serta terpercaya dalam proses awal penjajakan sampai ke pertunangan, bahkan terlibat langsung sampai ke jenjang pernikahan (walimatul ursy).

Biasanya, peran seulangke itu merupakan salah satu fungsi keuchik dan imeum meunasah, tetapi juga dapat dilakukan oleh orang lain yang berwibawa। Karena itu pada umumnya tugas seulangke melekat pada keuchik dan imeum meunasah. Tetapi untuk seulangke ada hak-hak adat yang melekat pada simbol-simbol bawaan adat yang terjadi dalam pertunangan sesuai dengan adat masing-masing daerah. Mereka perlu dijemput dan diantarkan dengan meninggalkan kepentingan pribadinya. Sebab itu dalam tatanan kehidupan silaturahmi masyarakat, tidak salahnya diberikan sedekah ala kadar menurut kemampuan (ingat tidak mengikat).

Kupiah_meuketop www.acehforum.or.id

Monday, September 10, 2007

MARHABAN YA RAMADHAN

Setiap tahun menjelang Ramadhan, umat Islam Indonesia selalu disibukkan oleh kapan hari pertama puasa। Setelah itu, kita sibuk kapan puasa berakhir. Sungguh ''kebodohan' ' yang tak terperikan. Di zaman ketika ilmu pengetahuan dan teknologi sudah bisa menghitung secara relatif akurat tentang perputaran matahari, bulan, dan bumi seperti saat ini, umat Islam masih tak kunjung mampu menyelesaikan masalah ini.

Kebodohan di sini bukan berarti ketakmampuan akal kita dalam memahami fenomena alam. Tapi, ketakmampuan meredam ego paham keislaman dan ketakmampuan memahami inti pesan Islam. Ini seolah paralel dengan makna jahiliyah yang menghinggapi orang-orang jazirah Arab ketika Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasulullah. Apakah kita mau disebut sebagai orang-orang yang masih berperilaku jahiliyah setelah kedatangan Islam selama hampir 15 abad? Tentu kita tak mau.

Namun kebodohan itu begitu kentara. Jika masalahnya adalah penentuan awal bulan, maka semestinya tiap bulan kita ribut soal itu. Jika soalnya adalah penentuan awal tahun baru hijriyah, maka semestinya kita ribut setiap 1 Muharram. Nyatanya kita hanya ribut saat awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Seolah di sanalah inti kalender hijriyah. Dari kenyataan ini sebenarnya makin jelas inti masalahnya. Ia tak sekadar masalah kalender, tapi ada hal lain. किता sebut saja soal sah-tidaknya ibadah puasa dan ibadah haji.

Jadi, masalahnya adalah bukan pada kemampuan ilmu pengetahuan dalam membantu kehidupan dan peribadatan umat Islam, tapi pada paham dan kelompok keagamaan. Jika ini masalahnya, tentu kita sangat sedih. Kita memang telah terperangkap ke dalam mental jahiliyah. Padahal kedatangan ajaran Islam adalah untuk memberikan pencerahan umat manusia agar selamat dalam menjalankan tugas kekhalifahan yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Karena itu di awal kedatangan Islam dan di masa kekhalifahan, umat Islam memimpin peradaban dunia berkat keluhuran ajarannya dan kemajuan ipteknya. Jika sekarang kita terperosok ke dalam mental jahiliyah, maka kita harus segera beristighfar dan bertaubat. Lalu bangkit untuk kembali ke inti pesan Islam.

Sebagai bangsa dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia dan sebagai elemen umat Islam yang paling demokratis di dunia, sudah saatnya umat Islam Indonesia memberikan contoh dan kepemimpinan dalam menyelesaikan masalah kalender hijriyah ini. Kita harus malu pada kebodohan dan kejahiliyahan kita yang tak kunjung kita tinggalkan ini. Marilah mulai tahun ini, umat Islam menemukan cara yang disepakati bersama agar pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang kita bisa memulai dan mengakhiri puasa secara bersama-sama. Itu akan membuktikan bahwa umat Islam bisa bangkit dan maju.

Hal itu dimulai dengan menanggalkan ego masing-masing dan kehendak yang kuat untuk syiar Islam, bukan stiar diri atau kelompoknya. Para ulama fikih, akademisi, peneliti, tokoh-tokoh umat, dan pemerintah bisa duduk bersama untuk membangun komitmen untuk tak lagi jalan sendiri-sendiri. Juga untuk merumuskan metode yang disepakati bersama yang sesuai dengan ajaran agama dan ilmu pengetahuan.

Mari kita berinstrospeksi bahwa umat Islam adalah umat yang paling tertinggal dibandingkan dengan umat-umat agama lain seperti Kristen, Yahudi, Buddha, bahkan kini Hindu. Tentu itu bukan karena ajaran Islamnya, tapi karena orang-orangnya. Masalah penyatuan kalender adalah hal yang paling sepele dibandingkan dengan pencapaian keunggulan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan peradaban. Namun, jika hal sepele itu bisa diselesaikan maka hal itu bisa menjadi pertanda bangkitnya kembali kepemimpinan umat Islam dalam membawa kabar gembira pada umat manusia".

Wednesday, July 18, 2007

ACEH FORUM COMMUNITY

PROFIL LEMBAGA

Nama : Aceh Forum Community (AFC)
Alamat : Jl. Sultan Salahuddin No. 32, Desa Bitai, Kec. Jaya Baru
Telp/Fax : -
Contact person : Fachrurrazi
Mobile : +62 8126965634
Email : acehforum@yahoo.com
Akta Notaris : -

I. Latar Belakang

Aceh Forum Community (AFC) didirikan pada tanggal 12 Mei 2007 di Banda Aceh. Lembaga ini didirikan atas dasar keinginan untuk membantu masyarakat Aceh yang terpuruk setelah dilanda konflik berkepanjangan, gempa bumi dan Tsunami pada 26 Desember 2004 yang lalu. Selain menimbulkan kerugian jiwa, harta dan benda yang besar bagi rakyat Aceh, bencana tersebut juga telah membuka akses yang besar dari berbagai pihak untuk memperbaiki kondisi di Aceh.

Dalam hal ini AFC diharapkan dapat mengambil peranan untuk memastikan proses rekonstruksi pasca konflik dan tsunami, bukan hanya bersifat recovery atas kerugian akibat bencana, namun juga membawa perubahan dalam kehidupan ekonomi, sosial budaya, lingkungan, pemberdayaan wanita dan informasi teknologi.

II. Visi
• Tercapainya masyarakat Aceh yang terkonsolidasi, sejahtera, innovatif, kreatif dan berdaya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

III. Misi
• Meningkatkan kapasitas masyarakat Aceh yang applikatif, maju dan modern.
• Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang teknologi informasi.
• Memberdayakan perekonomian masyarakat menuju kemandirian dan berjiwa entrepreneurship.

IV. OBJECTIVE
• Memfasilitasi masyarakat dalam memperoleh pendidikan yang layak.
• Memberikan training dan workshop kepada masyarakat tentang teknologi informasi.
• Menggali sumber potensi ekonomi dan dikembangkan dalam masyarakat.



V. Ruang Lingkup Kerja :
1. Informasi Teknologi
2. Pendidikan & Sosial Budaya
3. Ekonomi
4. Lingkungan
5. Pemberdayaan Wanita

Thursday, June 28, 2007

10 WASIAT IMAM HASAN AL-BANNA

1. Dalam kondisi bagaimanapun, dirikanlah shalat ketika mendengar Adzan

2. Baca atau dengarkan Al-Qur’an dan ingatlah Allah, Jangan habiskan sebagian waktu- waktu anda pada hal-hal yang tidak berguna

3. Berusaha untuk bias berbicara bahasa Arab fasih(baik dan benar), sebab hal itu merupakan Doktrin Islam

4. JAngan memperbanyak debad dalamsetiap urusan bagaimanapun bentuknya, sebab pamer kepandaian dan apa yang dinamakan riya itu tak akan mendatangkan kebaikan sama sekali

5. Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berinteraksi dengan Allah adalah hati yang tenag dan khusyuk

6. Jangan bergurau, sebab sebuah umat yang gigih berjuang tak mengenal selain kesungguhan

7. Jangan mengeraskan suara melebihi yang dibutuhkan oleh pendengar, sebab itu merupakan kecerobohan dan menyakitkan yang lain

8. Jauhi dari menggunjing orang dan menjelek-jelekkan kelompok atau organisasi, jangan membicarakannya selain kebaikannya saja

9. Kenalkan diri anda kepada saudara-saudara seagama dan seperjuangan walaupun anda tidak dituntut,sebab dasar dakwah kita adalah Cinta dan Kenal

10.Ketahuilah bahwa kewajiban itu lebih banyak dari pada waktu yang terluang, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan wqaktunya dengan sebaik-baiknya dan jika anda punya kepentingan(tugas) selesaikan segera.

Monday, June 25, 2007

KETIKA TUHAN BERKATA: TIDAK! (Sebuah Renungan)

Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya. "

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."

Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri."

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku."

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."

Ya Tuhan bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata... "Akhirnya kau mengerti !"

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~

Kadang kala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa,
meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah Kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan.

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat
tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat
mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es.

Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala
dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta Tuhan tahu apa yang paling baik bagi kita.
Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Tuhan mengabulkannya.

Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.
Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa.

"There's a time and place for everything, for
everyone. God works in a mysterious way."

sumber : lupa lagi ni, darimana sumbernya

Wassalam

S.O.S ;Save Our Security(catatan kaki tentang keikhlasan memenjarakan diri)

Kita lelah menampung gelisah
Kita rengkah untuk mengalah
Kita gundah memahami resah
Kita absah berkata petuah
Kita ejawantah makhluk siasah
Kita salah untuk kaprah, bahkan
Kita sumpah tanah agar merekah…
Kita takut menjadi pengecut
Kita salut kepada hal yang absurd
Kita balut kemelut
Kita semaput saat kalut
Kita bahkan terlalu pengecut mengganti “kita” dengan “aku”…
(Why must be affraid; sel penjara nomor 2 Polresta Cirebon,
24 Sya’ban 1422 H / 10 November 2001).

Ada empat alasan mengapa tulisan ini tampaknya memang harus ditulis,pertama, bahwasannya dialog merupakan jalan yang cukup bijak dan efektif untuk bersama-sama melakukan proses refleksi dari aktifitas bersama yang bukan saja bersifat massal (kolektif) melainkan juga bersifat personal (privacy). Dengan dialog diharapkan adanya semacam medium untuk saling berbagi kebenaran dengan membuka diri untuk mendengarkan dan menghargai eksistensi kebenaran “yang lainnya” (other and otherness), sebab, sungguh sulit mencari kebenaran sejati dalam kehidupan manusia apalagi jika ternyata kebenaran tersebut sudah berbaur dengan motif-motif yang memang secara substansial sama sekali tidak memiliki korelasi terhadap permasalahan yang menjadi dialektika aktual. Kedua, dalam dinamika aktifitas organisasi yang memiliki kemajemukan pola berfikir dan pola berkegiatan masing-masing penggiatnya, terjadinya perbedaan pendapat dan pemahaman tentang pelbagai hal sangat rentan terjadi bahkan –menurut saya- justru diberikan peluang sebesar-besarnya untuk hal tersebut. Permasalahan berikutnya adalah, sejauh mana komunikasi organisasi, etika dialog interpersonal dan mekanisme pengambilan keputusan organisasi mampu dijadikan sebagai wahana yang menjembatani perbedaan tersebut. Ketiga, berkaitan dengan rasa aman (secure), keamanan (security)dan upaya –upaya untuk menjaga dan mempertahankan rasa aman dan keamanan merupakan hal yang mendesak (urgent) untuk diwacana-kan ulang jika memang hal tersebut menjadi permaslahan yang –ironisnya- justru menjadikan ketidaknyamanan organisasi maupun penggiat organisasi untuk melakukan aktifitas per-orangan atau aktifitas organisasi lain. Ke-empat, gugatan kepada rasa keamanan yang tak kunjung datang untuk melakukan semua aktifitas niscaya diperlukan, sebab hal ini terkait dengan kemampuan maksimal orang per-orang maupun kemampuan maksimal organisasi untuk menjalankan roda aktifitasnya yang pada faktanya merupakan hal-hal yang sangat penting untuk diberikan perhatian khusus.


Jika memang asumsi dasar mengenai rasa aman yang sebegitu mahal diperoleh dalam kehidupan berorganisasi ini benar adanya, maka saya fikir permasalahannya bukanlah semata mengenai definisi dan praktis aktifitas keamanan itu sendiri, tetapi mengenai apa saja alasan-alasan yang mendasari perlunya kemananan itu dibentuk sedemikian rupa sehingga alih-alih mengayomi seluruh aktifitas malah memberikan rasa dan suasana yang tidak men-aman-kan aktifitas massal maupun personal. Tulisan ini, sungguh tidak berniat untuk menyoal problematika dari dinamika aktifitas organisasi atau bahkan dengan semena-mena men-justifikasi kemudian mendikotomikan ada pihak yang salah dan ada pihak yang benar, tulisan ini difungsikan sekedar menstimulasi terjadinya dialog melalui dialektika kolektif sembari mengurai kembali jejak-jejak yang ditinggalkan akibat keamanan yang tidak lagi memberikan rasa aman.

Tuesday, December 05, 2006



3 Desember 2006
cinta berlabuh....
pada dermaga cinta yang teduh....
......................................
Dinda....segenap kerinduan....tercurah padamu...
temani aku dengan kasih mu......
temani aku dengan sayang mu
temani aku dengan cintamu.....
dalam menggapai cinta hakiki

Friday, November 10, 2006

Aceh Communty Forum

Mau Bergabung Dengn 1090 member yang sudah aktif...

www.acehforum.or.id... adalah komunitas anak Aceh terbesar..
segera register...











Saturday, September 02, 2006

ACEH VIRTUAL STORE (AVS)




BACKGROUND

Nanggroe Aceh Darussalam adalah daerah yang sangat kaya, baik sumber daya alam (SDA) hingga budaya masyarakat yang memiliki keunikan dan kekhas-an yang tersendiri. Sejumlah produk budaya adalah suatu yang sangat mahal dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi karena masyarakat-masyarakat di dunia sangat menghargai kebudayaan Aceh.

Setelah bencana alam gempa dan tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam, tersisip hikmah yang sangat besar dengan terbuka lebarnya akses ke Aceh bagi bangsa-bangsa luar. Ribuan relawan dari berbagai penjuru dunia datang ke Aceh. Selain menjalani aktivitas sebagai relawan kemanusiaan, sengaja atau tidak sengaja mereka mulai mengamati dan menikmati kehidupan masyarakat Aceh, yang membekas dihati yang menjadi cerita berharga ketika pulang ke negeri asalnya. Kesimpulannya : Naggroe Aceh Darussalam beserta lagenda dan budayanya telah menjadi wacana di seluruh dunia.

Dapat dipastikan bahwa mereka mulai mengenal barang-barang antik yang menjadi souvenir untuk dibawa pulang ke negeri asalnya, barang-barang itu baik berupa rincong aceh, siwah, songket, kopiah meukeutop, tika iboeh, Pintoe Aceh dan eccessories kas aceh lainnya sampai dengan makan-makanan khas seperti pliek Ue, umping, pisang sale, dhoi-dhoi, bu bajek, halua, keripiek sare, kue pala dari pantai barat selatan, dan jenis lainnya. Tentu bukan saja para relawan kemanusiaan yang telah ke Aceh meminati barang tersebut, tapi semua orang yang sudah mendengar cerita tentang Aceh pasti ingin memiliki barang-tersebut.

Beranjak dari hal tersebut, maka kami melihat perlun adanya promosi besar-besaran dan juga mencermati peluang pasar luar negeri. Penjualan souvenir di internet adalah prospek bisnis yang sangat menjanjikan. ACEH VIRTUAL STORE (AVS) adalah sebuah usaha electronic commerce yang tidak saja menjadi mesin uang tapi juga dapat menjadi media sosialisasi kebudayaan Aceh ke dunia global.

PRODUK YANG DITAWARKAN

Produk-produk yang ditawarkan adalah souvenir Aceh baik berupa accessories, makanan khas (jenis makanan yang bisa tahan lama) sampai e-book ensklopedi Aceh.

Accesoris berupa :

  • Rincong
  • Siwah
  • Pintoe Aceh
  • Kain Songket
  • Kopiah Riman
  • Pakaian adat Aceh
  • Tas Motif Aceh
  • Baju Muslim Motif Aceh
  • Berbagai bordiran
  • Sepatu/sandal Aceh
  • Tikar Pandan
  • dll

Makanan :

  • Pliek U
  • Halua
  • Dodol
  • Bu Bajeek
  • Pisang Salee
  • Keripiek Sare
  • Kue Supet
  • Kue Keukarah
  • Kue Pala
  • Syrup Pala
  • Dan makanan kering khas aceh yang bisa tahan lama.

Eksiklopedi-ensklopedi dalam bentuk e-book

KEUNIKAN KELEBIHAN

Mungkin ada yang bertanya, apakah souvenir Aceh akan laku di pasar global? apakah orang-orang asing akan meminati Rencong atau Pisang Sale?

Souvenir Aceh memiliki keunikan tersendiri dan memiliki nilai jual tinggi. Dengan menempatkan diri pada posisi resseler AVS tidak memerlukan modal yang besar dalam hal pengadaan souvenir, karena dapat menjalin kerjasama dengan toko-toko souvenir atau pengerajin-pengerajin yang sudah ada sehingga dapat juga membantu mereka mempromosikan produk-produk kerajinan yang selama ini hanya dipasarkan di pasar lokal.

TARGET PASAR

Target pasar AVS sangat luas, tidak saja pencinta budaya tapi siapa saja di seluruh penjuru dunia pastis meminati souvenir Aceh. AVS pada tahap pertama menargetkan 10 % persen pengguna internet di dunia yang pada saat ini berjumlah ± 1,5 Miliyar akan memesan souvenir Aceh ke AVS.

TEMPAT/LOKASI USAHA ANDA

Tempat Usaha untuk AVS cukup digerakkan dari rumah , tidak perlu ruang toko ataupun ruang gudang. Dengan menyewa web hosting dan membeli sebuah domain name AVS akan menggelar etalase di dunia maya yang siap di browsing oleh siapa saja dan dimana saja, dengan kata lain AVS akan membuka toko di setiap tempat.

PESAING USAHA

Secara umum bisa dikatakan bahwa AVS belum memiliki saingan, karena belum ada Toko Souvenir Aceh yang menggunakan sistem ini, kalau pun ada masih sangat sedikit. Karena itu kami sangat yakin bahwa AVS punya prospek yang sangat menjanjikan.


SISTEM MARKETING

AVS akan tampil di www.acehvirtual.com yang memajangkan etalase produknya. Dengan mengpublish ke sejumlah situs search engine AVS akan cepat terpublikasi ke semua pengguna internet. Pembeli dapat melihat dulu gambar produk yang ditawarkan berikut dengan keterangannya serta harga yang ditawarkan, setelah berminat dapat melakukan transaksi melalui email atau telepon. Pada tahap awal AVS menggunakan sistem pembayaran langsung malalui transfer via Rekening Bank, untuk selanjutnya dikembangkan pembayaran via kartu kredit. Pesanan dikirim melalui jasa pengiriman seperti TIKI atau melalui jasa POS.

TIM MANAJEMEN USAHA

AVS tidak membutuhkan tenaga yang besar, AVS cukup di gerakkan oleh tiga orang.

  • Penanggung jawab usaha akan kami tangani sendiri yang mengkoordinir semua kegiatan AVS
  • 1 orang colector yang merangkap expedisi yang bertugas menyediakan barang pesanan dan mengantar ke tempat pengiriman.
  • 1 orang operator yang bertugas membaca email dan menjawab telp.

PENETAPAN HARGA

Dalam hal ini pengadaan barang, AVS memposisikan diri sebagai Reseller dari toko-toko souvenir Aceh yang sudah ada. Pada tahap pertama sebagai promosi (1 semester) AVS mengambil keuntungan 25% dari harga untuk pesanan dari dalam negeri dan 35 % untuk pesanan luar negeri yang sudah termasuk biaya pengiriman. Untuk tahap berikutnya disesuaikan dengan biaya pengiriman.

Misalnya :

Harga dasar Rencong ukuran Sedang

Rp. 100.000,- + 35 % = Rp. 135.000,- (pesanan dalam negeri)

Rp. 100.000, - + 45 % = Rp. 145.000,- (Pesanan Luar Negeri)

Harga Dasar Pakain Adat Aceh

Rp. 650.000,- + 35 % = Rp. 877.500,- (pesanan dalam negeri)

Rp. 100.000, - + 45 % = Rp. 942.500,-(Pesanan Luar Negeri )

TARGET PENERIMAAN

AVS menargetkan akan menjual 1500 souvenir dalam tahun ini degan keuntungan rata-rata per 1 souvenir adalah Rp. 75.000,-. Maka AVS akan menjadi mesin uang yang menghasilkan keuntungan bersih Rp. 112.500.000/tahun. Kami yakin dengan semangat untuk berkreativitas nilai ini akan tercapai.

KEBUTUHAN MODAL USAHA 1 TAHUN

2 unit komputer AMD Athlon 64 BIT @ Rp. 5.400.000,- Rp. 10.800.000,-

1 Unit Printer Canon iP 1600 Rp. 600.000,-

1 Unit Scaner Canon Lide 45 Rp 790.000,-

1 Unit Camera Digital Canon Rp 2.700.000,-

Sewa Web Hosting 350.000/bulan x 12 bulan Rp 4.200.000,-

Domain name dot com Rp. 120.000,-

Hosting Rp 350.000,-

Biaya pembuatan website Rp. 1.500.000,-

Rp. 20.590.000,-

(Dua Puluh Juta Lima Ratus Sembilan Puluh Ribu Rupiah)

PENUTUP

Membangun toko virtual bakan hanya sekedar mimpi-mimpi kami, kami yakin bisa mewujudkan semua itu. Siapapun akan mengakui bahwa e-commerce telah banyak mensukseskan anak-anak muda yang kreatif. Keingginan untuk memperkenalkan budaya bangsa menjadi motivasi yang terus mencabuk kami untuk terus bangun mencurahkan segenap kemampuan untuk ibu pertiwi. Konsep yang kami tuliskan bukan saja untuk kami sendiri, tapi kami sangat bangga bila pemuda-pemuda di Aceh bisa membuka mata, bahwa penderitaan dan cobaan yang menimpa daerah ini telah berakhir dan kita harus bangkit….bangkit…..dan bangkit. Tidak ada cerita berpangku tangan. Teknologi tiada berarti kalau tidak kita nikmati dengan berkreasi.

AVS hadir untuk budaya bangsa lebih berharga.